Why i am still here


Aku ulangi sedikit, cerita mengenai bagaimana aku bertahan ditengah ketidakpastian. Cerita bagaimana kamu menjadi tokoh utama dari alasan seribu puisiku bermula. tidak untuk membuatmu 'wah' dengan kalimat berikut, sekedar berbagi sekaligus memberitahu agar kelak kamu mengenangku sebagai wanita yang benar-benar mengaggumi sisi seluruhmu.

Barangkali,
Ada banyak mata yang memandangmu, namun hanya aku yang berani memuliakanmu dalam tulisanku.

Barangkali,
Ada banyak bibir yang membicarakanmu, namun hanya aku yang berani merutukimu dalam doa-doa yang diharapkan sampai pada telinga semesta.

Barangkali,
Ada banyak hati yang menginginkanmu, namun hanya aku yang berani menabung bait demi bait segala bentuk semoga agar kelak kau ditakdirkan untukku.

Tuan, pemilik seluruh sisi ruang perasaanku;  duduklah disini, disebelahku. aku ceritakan kau satu hal; Bahwa segala bentuk kebaikan dariku adalah —karenamu. Terimakasih untuk beberapa tahun yang lalu. Mungkin kau sudah lupa, namun itu telah terjadi pada pencapaianku hari ini. Sekali lagi, terimakasih.

Untuk saat ini aku lelah menjadi menyerah, aku lelah mendiskusikan ini dengan hati, berharap bisa pergi dari rasa perih, dari barisan rindu yang masih belum sempat menjadikan kita satu. sekedar dihadirimu saja aku harus berjuang memerangi batin sendiri seperti ini. Aku marah, namun tak pernah sampai pada menyerah. itu sebab aku bertahan, sebab ternyata aku masih berperasaan dan masih ingin dibersamakan.

— Plg, 180119

Read Users' Comments (0)

SEHARUSNYA SEJARAH



Ada alasan mengapa pengetahuan sejarah dijadikan sebagai mata pelajaran pada sekolah-sekolah. Karena sejarah tidak pernah menceritakan penyesalan masa lampau, namun membelajarkan pengalaman masa lampau sebagai bentuk manifestasi masa depan yang lebih baik. 

Sejarah bercita-cita membentuk generasi kedepan agar lebih presisi, terencana dan mapan dalam pemikiran serta perencanaan. Jangan lagi ada manusia yang minim literasi histori, sehingga terkatung gagal memperoleh resolusi dan gagal merealisasikan visi misi. 

Berbicara mengenai manusia dan visi misi.

Pada suatu negara yang telah dirancang oleh sejarah agar bersikap demokratis, seharusnya telah menerapkan empat pilar kebangsaan yang bersifat tidak meninabobokan perilaku otoriter dari para pemimipin, juga pancasila yang seharusnya tidak sekedar terpampang tanpa alasan di setiap ruang kelas pada sekolah-sekolah atau wajah pada kedua pemimpin diantaranya.

Sejarah seharusnya telah ada pada dada pemimpin kita, sejarah seharusnya ada pada diri kita. jangan lagi ada pemimpin yang sekedar haus eksistensi, jangan lagi ada manusia yang termakan oleh janji-janji orasi.

sebuah self improvement juga bagi kita yang merasa menyesal atas kejadian di masa lalu, bahwa 'sesal' mungkin kejadian sejarah yang bersifat privasi. Tidak untuk disesali, tapi untuk dipelajari. bahwa segala sesuatu harusnya menjadi lebih baik untuk menata masa depan yang "to get the point" bukan sekedar "to the point" tapi tidak ada yang bisa diambil.

But, balik lagi dalam konteks dari sebuah proses —bahwa manusia adalah makhluk pembelajar. tidak lepas dari jatuh bangun, tidak lepas dari rasa putus asa, dan jika tanpa adanya "Penyesalan" manusia juga tidak mungkin bertumbuh.

Sekian.

Palembang,
17-01-2019

Read Users' Comments (0)

Membentuk Generasi Negarawan dalam Trauma Politika dan Etika Bhineka Tunggal Ika

Pasca era reformasi
Politisi minim literasi
Birokrasi minim refleksi
Republik masih melahirkan pemimpin fiktif
hampir dua dekade sudah dibumbuhi luka kolektif
— citra orba basi kian tak terkemasi
korupsi, kolusi, nepotime politisi
kursi perpolitikan bak residivis
mengulang luka mendulang suka
tidak ada nyanyian transformasi
bagi Indonesia —masih berupaya
takut terpedaya

Indonesia kini masih berdiri mematung, menantikan tercapainya progres birokrasi mapan dan transparan. Kesenjangan yang terjadi masih tercium lekat dalam rumah tangga pemerintahan hingga kini; perubahan masif seolah mengepentingkan golongan berdasi daripada kepentingan golongan rakyat yang masih memperjuangkan sesuap nasi.

Secara fundamental, tentu Indonesia saat ini masih fokus mencari definisi pemimpin sejati dari pikiran-pikiran masyarakat sipil dan deretan aspirasi rakyat kecil.

Meningkatnya kebutuhan primer masyarakat, menurunya defisit, melonjaknya tingkat inflasi, kisruhnya kasus penodaan agama,  terpecahnya kasus korupsi para kepala daerah hingga anggota dewan menambah bumbu-bumbu depresi Indonesia yang terkatung-katung masih tanpa resolusi.

Progres pemimpin seringkali menjadi sangat tidak strategis dengan maraknya pertimbangan masal yang menghambat rancangan regulasi menuju Indonesia yang good leadership. Juga, kisruh kasus ingkar janji dan sederet tindakan tidak terpuji pejabat nasional dan daerah makin menanami bobroknya akar pemerintahan Indonesia yang berdampak pada meningkatnya intervensi masyarakat terhadap upaya kebijakan pemerintah saat ini.

Dewasa ini, nyatanya Indonesia masih harus terluka dengan masalah-masalah yang pernah terekam jejak sejarah, di bayangi narasi perpolitikan yang berdarah-darah, dengan moral kependudukan dan kepancasilaan yang masih jauh dari kata Bhineka Tunggal Ika. Sampai pada luka yang kesekian, yang dibutuhkan Indonesia untuk menyembuhkan luka hanyalah pemimpin yang Pancasilais, berideologi sederet Panca ke-Bhinekaan serta menanami perilaku Sila kesatuan. Lalu, sudahkah kita temukan hal tersebut pada dada pemimpin-pemimpin kita? para pejabat daerah, nasional?

Masih belum.

Pancasilais masih berada dalam imajinasi pemerintahan, suatu kualifikasi berbobot antara pemikiran dan harapan-harapan dunia perpolitikan dan kemasyarakatan yang sulit disentuh pembuktian. Kecil harapan kita menemukan pemimpin yang seperti ini kalau tidak berupaya untuk membentuk generasi muda non-politik agar menstimulasi dunia pemerintahan menjadi lebih regulatif dan demokratif, jauh dari tindakan konsumtif, koruptif, dogma-dogma negatif, atau bahkan figur pemimpin fiktif yang berdiri diatas pencitraan media massa yang mengincar pengakuan para awam yang berstigma sempit.

Generasi muda diharapkan mampu mengeksekusi ketimpangan-ketimpangan perpolitikan yang masih banyak terjadi pada fraksi-fraksi kursi pemerintahan yang sekedar mencicipi eksistensi namun tidak  mengindahkan milisi pada sejatinya visi politisi.

Barangkali generasi muda dari kota bisa bersuara. Juga, generasi muda dari desa menyeruah, menjadi provider aspirasi rakyat. Para mahasiswa-mahasiswa berideologi, juga berbagi opini, barangkali sedikit menyibak dan menyimak perubahan-perubahan yang berhasil direalisasikan di desa-desa mereka, di kampung-kampung mereka, sesuai janji-janji dan orasi khas kampanye, atau bahkan mengkritisi sederet bobot basi-basi politisi.

Meski Indonesia kini masih dalam pencarian jati diri, mari setidaknya sedikit demi sedikit membentuk generasi negarawan yang berparadigma ke-Bhineka-an.

Generasi muda masa kini, dituntut untuk lebih proaktif, ber-buddhi, mengkritisi tanpa menghakimi, berdebat pada tempat dimana aspirasi dapat tersampaikan dalam skala seluas-luasnya, cerdas dalam memilah, menjajaki media massa secara presisi tidak melulu di cekoki dengan satu pemberitaan yang kerap hanya mencitrakan para tuan dan nyonya berdasi, pro kubu kanan- kubu kiri.  Hal itulah yang sesungguhnya sangat diharapkan bumi Indonesia dalam trauma politika dan trauma etika Bhineka Tunggal Ika dewasa ini.


Oleh : Vita Aulia Ramadhani


#UntukDetikNEWS.com
.

Read Users' Comments (0)

Mengenali Kamu

Aku pernah mendapati kamu di tengah kerumunan

Aku pernah melihat kamu pada suatu dimensi waktu yang bukan milikku
Aku pernah mendengar suaramu meski tak melihat rupamu
Aku pernah dan kerap menyalahi mataku karena terlalu hapal akanmu
Aku pernah dan kerap menyalahi pendengaranku karena terlalu peka denganmmu
Aku pernah dan kerap tak percaya akan semuanya
Aku pernah menyangkal untuk terlalu mengenal kamu
Dan aku akhirnya percaya
Bahwa aku tidak pernah tidak mengenali kamu
Hujan Mimpi

Read Users' Comments (0)

Sekali Lagi

Menunggu,

adalah ketidakpastian yang ternyata masih saja dicandui oleh banyak orang, termasuk aku.
Dan di setiap senja yang mulai menua,
aku selalu menantimu kembali.
Meskin mungkin hanya sekedar singgah,
tapi setidaknya kamu berbalik dan melihat ke arahku,
sekali lagi.

Hujan Mimpi

Read Users' Comments (0)

BEJANA WAKTU

: untuk semua hal yang tidak aku mengerti

tenggelam sajalah semuanya hingga kemudian menghilang
sebab menjadi tahu adalah hal yang tidak mungkin
maka biarkanlah aku tetap seperti ini
bertemankan sepi dan kelam tanpa tahu ada cahaya di seberang

: untuk semua hal yang seharusnya aku mengerti
aku tidak akan bergerak
hanya masih menakar-nakar apa yang sebaiknya ditelan
agar esok tak mati hanya perkara ketidaktahuan
hingga bahkan tidak ditemukan

: untuk semua hal yang aku mengerti
cukuplah hingga di sini
aku mengerti bahwa beberapa hal memang sebaiknya tidak diketahui
segalanya terperangkap pada suatu ceruk
kemudian berhasil ditemukan saat tak lagi ingin menjadi tahu

-Hujan Mimpi 

Read Users' Comments (0)

KUMPULAN RPP SEJARAH SMA

DOWNLOAD RPP SEJARAH 1

DOWNLOAD RPP SEJARAH 2

DOWNLOAD RPP SEJARAH 3 

DOWNLOAD RPP SEJARAH 4

DOWNLOAD RPP SEJARAH 5

DOWNLOAD RPP SEJARAH 6

DOWNLOAD RPP SEJARAH 7


Read Users' Comments (0)