STRATEGI PEMBELAJARAN “PEMANFAATAN SUMBER BELAJAR DALAM UPAYA STRATEGI PEMBELAJARAN”
STRATEGI PEMBELAJARAN
“PEMANFAATAN
SUMBER BELAJAR DALAM UPAYA STRATEGI PEMBELAJARAN”
Disusun
Oleh
Kelompok
X
Nama :
1. Vita Aulia Ramadhani (35 2014 019)
2. Aldo Valentino (35 2014 0 )
3. Dikki Mizwar
(35 2014 0 )
Dosen
Pembimbing : Yusinta Tia Rusdiana,
M.Pd
Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
Tahun Akademik 2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Hidup manusia sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi. Tekhnologi misalnya banyak menghasilkan mesin dan
alat-alat seperti jam, mesin jahit, mesin cetak, mobil, mesin tenun, kapal
terbang, dan sebagainya agar manusia dapat hidup lebih mudah, aman, dan senang
dalam lingkungannya. Disamping itu alat-alat itu juga menimbulkan macam-macam bahaya yang dapat merusak dan
membahayakan hidup manusia.
Hasil tekhnologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam
pendidikan. Penemuan kertas, mesin cetak, radio, film, TV, komputer, dan
lain-lain segera dimnafaatkan bagi pendidikan. Pada hakikatnya alat-alat itu
tidak dibuat khusus untuk keperluan pendidikan seperti film, radio, TV,
komputer, dan sebagainya, akan tetapi alat-alat ini ternyata dapat
dimanfaaatkan dalam dunia pendidikan. Mungkin hanya “Teaching Machine” yang
sengaja dibuat khusus untuk tujuan pendidikan.
Banyak yang diharapkan dari alat-alat tekhnologi
pendidikan untuk membantu mengatasi berbagai masalah pendidikan, misalnya untuk
mengatasi kekurangan guru guna memenuhi aspirasi belajar penduduk yang cepat
pertumbuhannya atau untuk membantu pelajar menguasai pengetahuan yang sangat
pesat berkembang sehingga disebut ekplosi pengetahuan untuk membantu siswa
belajar secara individual dengan lebihh efektif dan efisien.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pemanfaatan dan Pengelolaan
Sumber Belajar ?
2. Apa Karakteristik Bahan Ajar Dalam Standar
Proses Pendidikan ?
3. Bagaimana
Pemanfaatan Sumber Belajar yang didesain dalam pembelajaran ?
4.
Bagaimana Pemanfaatan Sumber
Belajar yang non desain dalam pembelajaran ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Sumber Belajar
Sumber belajar adalah bahan termasuk juga alat permainan
untuk memberikan informasi maupun berbagai keterampilan kepada murid maupun
guru antara lain buku referensi, buku cerita, gambar-gambar, narasumber, benda,
atau hasil-hasil budaya.[1][1]
Menurut Association Educational Comunication and Tehnology AECT (As’ari, 2007)
sumber belajar yaitu berbagai atau semua sumber baik berupa data, orang dan
wujud tertentu yang dapat digunakan siswa dalam belajar, baik secara terpisah
maupun terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.
Sumber belajar menurut AECT (Suratno, 2008) meliputi
semua sumber yang dapat digunakan oleh pelajar baik secara terpisah maupun
dalam bentuk gabungan, biasanya dalam situasi informasi, untuk
memberikan fasilitas belajar. Sumber itu meliputi pesan, orang, bahan,
peralatan, teknik dan tata tempat.
Sudjana
(Suratno, 2008), menuliskan bahwa pengertian Sumber Belajar bisa
diartikan secara sempit dan secara luas. Pengertian secara sempit diarahakan
pada bahan-bahan cetak. Sedangkan secara luas tidak lain adalah daya yang bisa
dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Pengertian sumber belajar menurut Ratno Dwi Joyo S.Pd.
Secara sempit, yaitu buku atau bahan cetak lainnya.
Secara luas, yaitu segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar.
Secara sempit, yaitu buku atau bahan cetak lainnya.
Secara luas, yaitu segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar.
Edgar Dale
(1969) seorang ahli pendidikan mengemukakan sumber belajar adalah, segala
sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang.
Menurut Ahmad Sudrajat Sumber belajar (learning resources) adalah
semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan
oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara
terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar
atau mencapai kompetensi tertentu.[2][2]
Dalam pengembangan sumber belajar itu terdiri dari dua
macam, yaitu;
Pertama, sumber belajar yang dirancang atau secara sengaja dibuat atau dipergunakan untuk membantu belajar mengajar, biasa disebut learning resources by design, (sumber belajar yang dirancang). Sumber belajar semacam ini sering disebut bahan pembelajaran. Misalnya buku pelajaran, modul, brosur, ensiklopedi, program audio, program slide suara, film, video, slides, film strips, transparansi (OHT). Semua perangkat keras ini memang secara sengaja dirancang guna kepentingan pengajaran.
Kedua, sumber belajar yang dimanfaatkan guna memberi kemudahan seseorang dalam belajar berupa segala macam sumber belajar yang ada disekitar lingkungan kita, sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan. Sumber belajar tersebut tidak dirancang untuk kepentingan tujuan suatu kegiatan pengajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sumber belajar ini disebut learning resources by utilization. Misalnya taman, pasar, toko, museum, kebun binatang, waduk, sawah, terminal, surat kabar, siaran televise, film, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, dan sebagainya yang ada di lingkungan sekitar yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan belajar.[3][3]
Segenap sumber belajar yang dirancang maupun yang tidak dirancang diklasifikasikan sebagai orang, peralatan, teknik, atau metodAe, dan kondisi atau lingkungan. Dalam prakteknya, segala macam sumber belajar , baik yang dirancang maupun yang dimanfaatkan, tidak selalu harus dibedakan karena memang sulit untuk diidentifikasi secara tegas
Pertama, sumber belajar yang dirancang atau secara sengaja dibuat atau dipergunakan untuk membantu belajar mengajar, biasa disebut learning resources by design, (sumber belajar yang dirancang). Sumber belajar semacam ini sering disebut bahan pembelajaran. Misalnya buku pelajaran, modul, brosur, ensiklopedi, program audio, program slide suara, film, video, slides, film strips, transparansi (OHT). Semua perangkat keras ini memang secara sengaja dirancang guna kepentingan pengajaran.
Kedua, sumber belajar yang dimanfaatkan guna memberi kemudahan seseorang dalam belajar berupa segala macam sumber belajar yang ada disekitar lingkungan kita, sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan. Sumber belajar tersebut tidak dirancang untuk kepentingan tujuan suatu kegiatan pengajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sumber belajar ini disebut learning resources by utilization. Misalnya taman, pasar, toko, museum, kebun binatang, waduk, sawah, terminal, surat kabar, siaran televise, film, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, dan sebagainya yang ada di lingkungan sekitar yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan belajar.[3][3]
Segenap sumber belajar yang dirancang maupun yang tidak dirancang diklasifikasikan sebagai orang, peralatan, teknik, atau metodAe, dan kondisi atau lingkungan. Dalam prakteknya, segala macam sumber belajar , baik yang dirancang maupun yang dimanfaatkan, tidak selalu harus dibedakan karena memang sulit untuk diidentifikasi secara tegas
B.
Fungsi Sumber Belajar
Memberikan kesempatan proses berasosiasi kepada anak
untuk mendapatkan dan memperkaya pengetahuan dengan menggunakan berbagai alat,
buku, narasumber, atau tempat. Penggunaan sumber belajar disesuaikan dengan
tingkat kebutuhan anak, misalnya ada seorang anak yang hanya menghendaki bahan
dari sumber belajar yang sama. Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan anak akan
pengulangan-pengulangan untuk menguasai kemampuan maupun keterampilan tertentu.
Pengulangan itu dapat menjadi suatu kebiasaan yang dibutuhkan anak dalam
kehidupan dan pendidikan selanjutnya. Lain halnya kita sebagai tenaga pendidik
atau pemerhati masalah pendidikan, kita diwajibkan untuk selalu mengikuti
perkembangan zaman dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang ada. Dengan
demikian diharapkan dengan tercipta
kemampuan mendidik anak dengan cara-cara yang menyenangkan sehingga dapat
memiliki dampak positif dalam diri anak yaitu selalu meningkatkan keinginan
untuk belajar.
Fungsi sumber belajar lain adalah meningkatkan
perkembangan anak dalam berbahasa dan berkomunikasi dengan mereka tentang
hal-hal yang berhubungan dengan sumber belajar atau hal lain. Sedapat mungkin
anak dilatih untuk bercerita tentang kejadian yang ia lihat, dengar, atau
hal-hal lain yang ia rasakan.
C. Jenis-jenis
dan Alat Sumber Belajar
Menurut AECT
(Association For Educational Communication And Technology) membagi
sumber belajar dalam enam jenis, (Wina Sanjaya) yaitu:
1.
Pesan (message)
Maksudnya
segala informasi yang harus disalurkan oleh komponen, selain guru, yang
berbentuk ide, fakta, pengertian dan data.
Pesan merupakan sumber belajar yang
meliputi:
a. Pesan formal, yaitu pesan yang
dikeluarkan oleh lembaga resmi seperti pemerintah atau pesan yang disampaikan
guru dalam situasi pembelajaran. Pesan-pesan ini selain disampaikan secara
lisan juga dibuat dalam bentuk dokumen, seperti kurikulum, peraturan
pemerintah, perundangan, silabus dan sebagainya.
b. Pesan non formal yaitu pesan yang ada di
lingkungan masyarakat luas yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran,
misalnya cerita rakyat, legenda, ceramah oleh tokoh masyarakat dan ulama, prasasti,
relief-relief pada candi, kitab-kitab kuno dan peninggalan sjarah yang lain.
2.
Orang (People)
Yaitu orang
yang bertindak sebagai penyimpan dalam penyalur pengolah dan pengkaji pesan.
Orang itu bisa siapa saja yang memiliki keahlian tertentu dimana peserta didik
dapat belajar sesuatu. Misal guru mendatangkan para ahli untuk menyampaikan
pesan seperti dokter menceritakan cara mengobati pasien di Puskesmas.
3.
Bahan (Matterials)
Yaitu
barang-barang yang lazim disebut media atau perangkat lunak (software)
yang biasanya berisikan pesan pembelajaran untuk disampaikan dengan menggunakan
peralatan, bahan itu sendiri sudah merupakan bentuk penyajian.
Contoh: buku paket, buku teks,
modul, program video, film, OHT (over head transparency), program slide
dan sebagainya.
4.
Peralatan (device)
Yaitu
sesuatu yang disebut media/hardware yang digunakan untuk menyampaikan pesan
yang tersimpan dalam bahan. Di dalamnya mencakup radio, multimedia
projector/infocus, slide projector, OHP dan sebagainya.
5.
Teknik atau metode (Technique)
Yaitu
prosedur yang disisipkan dalam mempergunakan bahan pelajaran, peralatan,
situasi dan orang yang menyampaikan pesan. Contoh guru mendemonstrasikan
(memberi contoh) mengenai bagaimana cara memegang bola tangan yang tepat.
Selain itu, teknik yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan orang
dalam memberikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalamnya
mencakup ceramah, permainan/ simulasi, Tanya jawab, role play (sosiodrama) dan
sebagainya.
6.
Lingkungan (setting)
Maksudnya tempat atau situasi
sekitar dimana pesan disalurkan atau di sampaikan dan di terima oleh seseorang
sehingga seseorang itu dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah
laku. Latar atau lingkungan yang berada di dalam sekolah maupun lingkungan yang
berada di luar sekolah, baik yang sengaja dirancang maupun yang tidak secara
khusus disiapkan untuk pembelajaran. Seperti pengaturan ruangan, pencahayaan,
ruangan kelas, perpustakaan, laboratorium, halaman sekolah, kebun sekolah,
lapangan sekolah, kebun binatang, pasar, museum, sungai, gunung, tempat
pembuangan sampah, taman, kolam ikan, rumah dan sebagainya.
Disini akan dibicarakan secara singkat beberapa alat
pendidikan yang dapat dipandang sebagai alat tekhnologi pendidikan.
1. Papan Tulis
Alat pengajaran
ini sangat populer, digunakan oleh sekolah yang tradisional maupun yang modern
dan dapat dikombinasikan dengan alat pengajaran lainnya seperti radio, TV. Alat
ini dimanfaatkan dalamm tiap metode pengajaran.
Papan tulis dapat dipakai untuk tulisan, membuat gambar, grafik, diagram, peta,
dan sebagainya dengan kapur yang putih mapun berwarna.
2. Gambar
Gambar-gambar
dapat dikumpulkan dari berbagai sumber seperti kalender, majalah, surat kabar, pamflet
dari biro perjalanan, dan sebagainya. Gambar-gambar harus dikumpulkan dalam map
menurut kategori tertentu agar mudah dicari kembali bila diperlukan.
3. Model
Model-model
dapat berupa tiruan benda yang sebenarnya seperti model mobil, kereta api,
rumah, binatang, dan lain-lain.
4. Koleksi
Bermacam-macam
koleksi dapat diadakan seperti macam-macam tekstil, batu-batuan, daun kering,
mata uang, perangko, dan sebagainya.
5. Peta dan Globe
Geografi dan
pelajaran sejarah akan pincang tanpa peta. Macam-macam peta harus disediakan
tentang tiap bagian dunia, juga peta ekonomi, penduduk, dan sebagainya.
6. Buku Pelajaran
Buku pelajaran
merupakan alat pengajaran yang paling banyak digunakan di antara semua alat
pengajaran lainnya. Buku pelajaran telah digunakan sejak manusia pandai menulis
dan membaca, akan tetapi meluas dengan pesat setelah di temukannya alat cetak.
7. Film
Sejak
ditemukannya film, para pendidikan segera melihat manfaatnya bagi pendidikan.
Film pendidikan sekarang telah sangat berkembang di negara-negara maju. Telah
banyak terdapat perpustakaan filmyang meminjemkan film tentang segala macam
topik dalam tiap bidang studi. Universitas demikian pila sekolah-sekolah telah
banyak mempunyai perpustakaan film sendiri.
8. Film Strip dan Slide
Flmstrip dan
slide di perlihatkan kepada murid-murid dengan
proyektor. Yang di lihat adalah gambar “mati” jadi bukan gambar hidup
seperti film. Gambar itu dapat merupakan foto, tabel, diagram karton,
reproduksi lukisan, dan sebagainya. Kecepatan memperlihatkan filmstrip atau
slide dapat di atur oleh guru dan bergantung pada banyak nya komentar yang di
berikannya tentang tiap gambar.
9. Overhead Projector
Overhead
projector dapat memproyeksikan pada layar apa yang tergambar atau tertulis pada
lembaran plastik transparan. Guru dapat membuat tulisan, catatan atau gambar
pada lembaran transparan itu seperti yang dapat dilakukannya pada papan tulis.
Overhead projector dapat digunakan tanpa menggelapkan ruangan.
D.
Pedoman Umum Penggunaan Media dalam Proses Pembelajaran
Dalam usaha
menggunakan media dalam proses belajar-mangajar, perlu diberikan sejumlah
pedoman umum sebagai berikut :
1.
Tidak ada suatu media atau sumber yang terbaik untuk mencapai suatu tujuan
pembelajaran. Masing-masing jenis media mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Oleh karena itu pemanfaatan kombinasi dua atau lebih media akan lebih mampu
membantu tercapainya tujuan pembelajaran.
2.
Penggunaan media harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
Dengan demikian pemanfaatan media atau sumber belajar menjadi integral dari
penyajian pelajaran.
3.
Penggunaan media harus mempertimbangkan kecocokan ciri media dengan
karakteristik materi pelajaran yang disajikan.
4.
Penggunaan media harus disertai persiapan yang cukup seperti mem-preview media
yang akan dipakai, mempersiapkan berbagai peralatan yang dibutuhkan di ruang
kelas sebelum pelajaran dimulai dan sebelum peserta masuk. Dengan cara ini
pemanfaatan media diharapkan tidak akan menganggu kelancaran proses
belajar-mengajar dan mengurangi waktu belajar.
5.
Peserta didik perlu disiapkan sebelum media pembelajaran digunakan agar mereka
dapat mengarahkan perhatian pada hal-hal yang penting selama penyajian dengan
media berlangsung.
6.
Penggunaan media harus diusahakan agar senantiasa melibatkan partisipasi aktif
peserta.
E. Karakteristik Bahan Ajar Dalam
Standar Proses Pendidikan
Sesuai dengan amanat Peraturan
Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan salah satu
standar yang harus dikembangkan adalah standar proses. Standar proses
Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar
proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar
dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada
jalur formal, baik pada sistem paket maupun pada sistem kredit semester.
Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses
pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran
untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Suatu bahan pembelajaran yang baik
memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri yang melekat pada bahan ajar yang disajikan
(disusun) merupakan ciri khas yang membedakan antara bahan pembelajaran yang
baik dengan bahan pembelajaran yang tidak baik.
Bahan pembelajaran yang baik memenuhi syarat substansial
dan penyajian sebagai berikut:
a. Secara substansial bahan pembelajaran harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Secara substansial bahan pembelajaran harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Sesuai dengan visi dan misi sekolah
Visi merupakan wawasan jauh ke depan
yang menunjukkan arah bagi pencapaian tujuan. Sedangkan misi merupakan gambaran
tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh lembaga, dalam hal ini
sekolah/madrasah. Visi dan misi sekolah dalam pencapaiannya diwujudkan melalui
proses pembelajaran, sedangkan proses pembelajaran dibanguna diantaranya karena
adanya bahan pembelajaran. Oleh karena itu bahan pembelajaran yang disusun
harus sesuai dengan visi, misi, karena bahan pembelajaran itu sendiri merupakan
sarana materi yang akan disampaikan pada siswa dalam upaya mencapai visi dan
misi sekolah.
2) Sesuai dengan kurikulum
Kurikulum yang dimaksud adalah
seperangkat program yang harus ditempuh siswa dalam penyelesaian pendidikannya.
Paling tidak, secara sempit kurikulum meliputi aspek tujuan/kompetensi,
indikator hasil materi, metoda dan penilaian yang digunakan dalam proses
pembelajaran. Bahan ajar, dalam hal ini merupakan pengembangan materi
pembelajaran hendaknya senantiasa sesuai dengan tujuan/kompetensi, materi dan
indikator keberhasilan.
3) Menganut azas ilmiah
Ilmiah yang dimaksud adalah bahan ajar
tersebt disusun dan disajikan secara sistematis (terurai dengan baik)
metodologis (sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan).
4) Sesuai dengan kebutuhan siswa
4) Sesuai dengan kebutuhan siswa
Bahan ajar merupakan hal yang harus
dicerna dan dikuasai siswa. Dengan demikian bahan ajar disusun semata-mata
untuk kepentingan siswa. Oleh karena itu, maka bahan ajar yang disusun
hendaknya sesuai dengan kebutuhan siswa, yaitu sesuai dengan tingkat berpikir,
minat, latar sosial budaya dimana siswa itu berada.
b. Memenuhi kriteria penyajian, yang meliputi:
1) Memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi
Bahan pembelajaran yang disusun
hendaknya memiliki derajat keterbacaan yang tinggi, dalam arti bahasa yang
disajikan menggunakan struktur kalimat dan kosa kata yang baik, bentuk kalimat
sesuai tata bahasa, dan isi pesan yang disampaikan melalui huruf, gambar, photo
dan ilustrasi lainnya memiliki kebermaknaan yang tinggi.
2) Penyajian format dan fisik bahan pembelajaran yang
menarik
Format dan fisik bahan pembelajaran
juga harus diperhatikan. Format dan fisik buku ini berkaitan dengan tata letak
(layout), penggunaan model dan ukuran huruf, warna, gambar komposisi, kualitas
dan ukuran kertas, penjilidan, dsb. Format dan fisik bahan ajar sebenarnya
merupakan tanggung jawab penerbit (bila bahan ajar tersebut diterbitkan),
tetapi sebaiknya penulis memiliki gagasan bagaimana format dan fisik bahan ajar
yang diinginkan.
Istilah belajar sudah sangat akrab
dengan kehidupan kita. Belajar, merupakan kegiatan yang terjadi pada semua
orang tanpa mengenal batas usia, dan berlangsung seumur hidup. Belajar
merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya
untuk merubah perilakunya yang relatif permanen pada dirinya sendiri. Tentu
saja, perubahan yang diharapkan adalah perubahan ke arah yang positif.
Dalam pasal 1 no 20 Undang-Undang
Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
disebutkan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dari apa
yang terdapat dalam Undang-Undang RI tentang Sisdiknas tersebut jelaslah bahwa
sumber belajar, di samping pendidik, mutlak diperlukan dalam pelaksanaan proses
pembelajaran. Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran hanya akan
berlangsung apabila terdapat interaksi antara peserta didik dengan sumber
belajar dan pendidik. Dengan kata lain tanpa sumber belajar maka
pembelajaran tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan optimal, karena tidaklah
mencukupi untuk mewujudkan pembelajaran bila interaksi yang terjadi hanya
antara peserta didik dengan pendidik saja. Yang sangat diperlukan dari pendidik
terutama adalah perannya dalam memberikan motivasi, arahan, bimbingan,
konseling, dan kemudahan (fasilitasi) bagi berlangsungnya proses belajar dan
pembelajaran yang dialami oleh peserta didik dalam keseluruhan proses
belajarnya. Sedang sumber belajar berperan dalam menyediakan berbagai informasi
dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang
diinginkan pada bidang studi atau mata pelajaran yang dipelajarinya. Oleh
karena itu sumber belajar yang beraneka ragaam, di antaranya berupa bahan
(media) pembelajaran memberikan sumbangan yang positif dalam peningkatan mutu
pendidikan dan pembelajaran.
F. Pemanfaatan Sumber Belajar yang
Didesain dalam Pembelajaran
Sumber belajar yang dirancang (learning
resources by design), yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang
atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan
fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
Sumber belajar yang di desain merupakan
sumber-sumber belajar yang secara khusus di kembangkan sebagai “komponan
sistem instruksional” yang diharapkan dapat membantu kemudahan kegiatan belajar
yang bersifat formal ataupun non formal dan mempunyai tujuan tertentu. Dengan
demikian sumber belajar jenis ini harus dianalisis, direncanakan, dan kemudian
baru dikembangkan sesuai dengan kebutuhan tujuan dan materi serta karateristik
si belajar/siswa agar hasilnya benar-benar dapat memudahkan belajar.
Sumber belajar yang tinggal
dimanfaatkan yaitu sumber-sumber yang tidak secara khusus didesain untuk
keperluan pembelajaran namun dapat di temukan, diterapkan, dan digunakan untuk
keperluan belajar.
Dari beberapa definisi dan penjelasan tentang teknologi instruksional dapat
diambil beberapa kesimpulan; bahwa teknologi instruksional menghasilkan sumber
belajar yang dapat digunakan untuk memperbaiki pengajaran. Terdapat
fungsi-fungsi tertentu, misalnya pengembangan instruksional, produksi media,
pengelolaan sumber belajar, penilaian program, dan sebagainya yang harus
dijalankan oleh tenaga-tenaga tertentu dalam bidang teknologi instruksional
Sumber belajar yang didesain untuk
keperluan belajar telah banyak dikenal orang. Namun demikan tidak semua sumber
yang didesain untuk keperluan pendidikan. AECT dalam Miarso (1986: 88)
disebutkan bahwa ada kesangsian apakah fasilitas yang ada dalam masyarakat,
misalnya museum semuanya itu didesain khusus terutama untuk pembelajaran
peserta didik sekolah dalam bidang yang sesuai dengan kurikulum. Kenyataan
bahwa sumber-sumber ini dimanfaatkan untuk membantu belajar manusia, membuat
semuanya itu menjadi sumber belajar.
G.
Pemanfaatan Sumber Belajar yang Non desain dalam Pembelajaran
Sumber belajar yang non desain yaitu
sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan
keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari apa yang
telah di uraikan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Pusat sumber belajar adalah tempat atau
wadah dimana media dan material pembelajaran dibuat, digunakan dan dievaluasi.
Pusat sumber belajar merupakan sumber belajar yang dirancang secara sistematis
dan diorganisir untuk mencapai tujuan atau kompetensi belajar.
Riwayat perkembangan sumber belajar di
mulai dari Pada zaman praguru, sumber belajar utamanya adalah orang dalam
lingkungan keluarga atau kelompok karena sumber belajar lainnya dianggap belum
ada atau masih sangat langka (Sadiman, 1989: 143). Bentuk benda yang digunakan
sebagai sumber belajar antara lain adalah : batu-batu, debu, daun-daunan, kulit
pohon, kulit binatang dan kulit karang. Isi pesan itu sendiri ada yang
disajikan dengan isyarat verbal dan ada yang menggunakan tulisan. lahirnya guru
sebagai sumber belajar utama. Proses belajar tidak lagi ditangani
oleh anggota keluarga, tetapi sudah diserahkan kepada guru. sumber belajar
dalam bentuk cetak seperti buku, komik, majalah, koran, panplet. Sumber Belajar
yang Berasal dari Teknologi Komunikasi. Teknologi dalam pendidikan populer
dengan istilah audio visual, yakni pemanfaatan bahan-bahan audio visual dan
berbentuk kombinasi lainnya dalam sistem pendidikan. Sumber belajar
yang didesain dan dimanfaatkan untuk didesain khusus terutama untuk
pembelajaran peserta didik sekolah dalam bidang yang sesuai dengan kurikulum.
1.
sumber belajar
adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan atau digunakan seseorang untuk
memfasilitasi segala kegiatan belajar, baik itu secara terpisah maupun secara
terkombinasi agar dapat mempermudah seseorang dalam mencapai tujuan belajar
yang diinginkan.
2.
Fungsi sumber
belajar memberikan kesempatan proses berasosiasi kepada anak untuk mendapatkan
dan memperkaya pengetahuan dengan menggunakan berbagai alat, buku, narasumber,
atau tempat.
3.
Menurut
AECT (Association For Educational Communication And Technology) membagi
sumber belajar dalam enam jenis, Pesan (message), Orang (People), Bahan (Matterials), Peralatan (device), Teknik atau metode (Technique), Lingkungan (setting)
4.
Dalam usaha
menggunakan media atau sumber belajar dalam proses belajar-mangajar, perlu
diberikan sejumlah pedoman umum.
B.
Saran
Untuk para peneliti dan para penyusun makalah
selanjutnya diharapkan kedepannya agar
lebih baik lagi. Baik dari segi bahasa maupun penyajiannya serta dapat lebih banyak lagi mendapat referensi
buku atau sumber yang lainnya
untuk menjadi acuan atau dasar pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, Rineka Cipta,
Jakarta, cet ke-2,2004.
Anggani Sudono, Sumber
Belajar dan Alat Permainan, PT Grasindo, Jakarta, cet ke-6, 2010.
Nasution, Tekhnologi Pendidikan, Bumi Aksara,
Jakarta, cet ke-6, 2011.
Yusufhadi
Miarso, Menyemai Benih Tekhnologi
Pendidikan, Kencana, Jakarta, cet ke-2, 2005.




